![]()

Sangatta, Kontemporer.id — Potensi alam luar biasa yang dimiliki Kabupaten Kutai Timur (Kutim), khususnya Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, kini menjadi sorotan utama sebagai motor penggerak baru sektor pariwisata daerah. Dorongan kuat datang dari berbagai pihak, meyakini bahwa pengembangan pariwisata berbasis alam dan konservasi ini tidak hanya akan menarik lebih banyak wisatawan, tetapi juga berpotensi besar memberikan kontribusi langsung terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi, secara tegas meminta Dinas Pariwisata (Dispar) Kutim untuk meningkatkan promosi Gunung Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Jimmi menekankan bahwa kawasan ini adalah aset alam berkelas dunia yang memiliki daya tarik istimewa, mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.
“Gunung Karst di Sangkulirang merupakan aset alam berkelas dunia yang belum dimaksimalkan secara optimal. Potensi karst ini sangat besar. Jika dikelola dengan baik dan dipromosikan secara masif, pariwisata bisa jadi sektor ekonomi baru bagi Kutim,” ungkap Jimmi.
Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat memang istimewa. Selain menyimpan lukisan gua purba dan keanekaragaman hayati yang tinggi, kawasan ini juga memiliki formasi geologi unik yang jarang ditemukan di tempat lain. Keunggulan ini yang mendorongnya masuk dalam nominasi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2015 dan kini sedang dalam proses menuju status Geopark Nasional serta UNESCO Global Geopark.
Pengajuan geopark sendiri telah dilakukan sejak 2019 oleh Pemerintah Provinsi Kaltim bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Pengakuan global ini dinilai akan membawa dampak positif signifikan.
“Penetapan status taman bumi akan membawa dampak positif, termasuk pengakuan budaya dan peluang promosi yang lebih luas di tingkat global,” kata Manajer Senior YKAN, Niel Makinuddin.
Apalagi, tren wisata saat ini bergeser ke arah wisata berbasis alam dan konservasi. Kutim dinilai harus mampu memanfaatkan peluang emas ini. Jimmi optimis, jika sektor pariwisata karst didorong maksimal, dampaknya akan terasa langsung di masyarakat.
“Wisatawan datang, ekonomi bergerak, PAD juga bisa ikut naik,” tegasnya.
Pemerintah melalui Menteri ESDM juga telah menunjukkan dukungan pada tahun 2024 dengan menetapkan 26 area di Kalimantan Timur sebagai situs warisan geologi (geosite), di mana Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat termasuk dalam daftar prioritas pengembangan taman bumi pertama di Kaltim.
Melihat potensi besar ini, Jimmi berharap Dispar Kutim segera memperkuat program promosi, kerja sama, dan mempercepat penyusunan strategi pengembangan kawasan. Hal ini krusial agar Kutai Timur benar-benar memiliki sektor unggulan baru yang mampu mengangkat perekonomian masyarakat secara keseluruhan.(ADV)









